Konbanwa minna...
hari ini mimin bella mau share naskah drama yang mimin punya... semoga bermanfaat
BLONG
BABAK I
MUSIK PELAN – PELAN MERAYAPI PANGGUNG. PERLAHAN
TOKOH MASUK
DENGAN PAKAIAN PENGEMIS. SINAR LAMPU PERLAHAN –
LAHAN TERANG.
TokohTokoh : (bersama – sama seperti membaca mantra)
Marilah pak, marilah bu, beri kami selagi
mampu… Barang halal nambah pahala, barang haram nanbahi dosa…
MEREKA MELAKUKAN KOOR DENGAN LAGU DAN LIRIK YANG
SAMA. TOKOH 1
MELANJUTKAN DENGAN MANTRA SENDIRI DI BUAT RAP.
Tokoh 1 : Halal haram apa bedanya, sepanjang duit sama
fungsinya. Kenapa harus mikir caranya, kini yang penting banyak jumlahnya.
TOKOH 2 MENYAMBUNG DENGAN MANTRANYA SENDIRI YANG
JAUH BERBEDA.
Tokoh 2 : Saya punya banyak doa lengkap dengan daftar
harganya. Doa murah lama manjurnya doa mahal cepat sampainya. Marilah tuan,
marilah nyonya tinggal pilih mana yang suka. Naik pangkat, murah rejeki, sampai
gampang gaet istri muda.
TIBA – TIBA TERDENGAR BENTAKAN, MEREKA PADA KAKU,
TEGANG, DAN TAKUT.
Kemukus : (dengan lagak orang kesal) Cukup ! Cukup
!!! (marah) Sudah saya duga sebelumnya. Saudara pasti masih terjebak
tata cara ngemis yang konvensional ! (jalan memandangi para tokoh) Sejak
jaman pra sejarah hingga sekarang, cara – cara itu pula yang dipakai. Saudara
hanya mbebek saja pada adat – istiadat nenek moyang saudara. Padahal, sebagai
pengemis, saudara dituntut untuk kreatif, untuk inovatif dan harus progresif
menyakinkan klien ! Naa, jangankan untuk menyakinkan klien ! untuk menyakinkan
saya saja agar saudara lolos seleksi di sekolah ini pun, saya sangat meragukan
kemampuan saudara.
SEMUA MAKIN TEGANG.
Kemukus : Saudara ! Saya ingin Tanya ! (menunjuk tokoh
1, yang ditunjuk maju dalam keadaan siaga) Ini psikotest ! Maka semakin
saudara berbohong, semakin gampang tertebak kalau saudara memang menderita
penyakit psikologis. Sekolah ini menolak calon pengemis yang rendah
inteligensinya !
Tokoh 1 : Siap bu !
Kemukus : Bagus ! Saudara sangat tegap dan sigap. Sangat
berbeda dengan sikap saudara tadi saat memperagakan cara ngemis saudara. (sinis)
Saudara hanya bermodal ngedumel ! Dan mantra – mantra semcam itu sudah tidak
dibutuhkan para klien ! Mereka pusing mendengarnya.
Tokoh 1 : Tapi bu ! Dari awal tujuan kami adalah ngemis.
Semakin sanggup memancing belas kasihan, tentu kami akan semakin berhasil
sebagai pengemis.
Kemukus : Itu kalau belas kasihan yang saudara maksudkan
benar – benar otentik. Sebuah belas kasihan yang muncul dari lubuk sanubari
klien ! Tapi keliru besar kalau saudara merasa sanggup memancing belas kasihan
itu keluar lewat keadaan saudara yang begini tegap.
Tokoh 1 : Tegap kan sekarang bu. Lha tadi kan tidak !
Kemukus : Naaa, saudara masih percaya pada acting ngemis
tradisional. Pura – pura buta, pincang, buntung… Tapi begitu terima seperak dua
perak langsung lari lintang pukang ! Ini mentalitas ! Mentalitas ! Terus terang
sekolah ini menolak mentalitas amatiran semacam itu. Sekarang saudara ! (tokoh
2)
Tokoh 2 : Siap bu !
Kemukus : Apa motivasi saudara jadi pengemis ?
Tokoh 2 : (berbicaranya seperti melantunkan mantra)
Berawal dari rasa heran bu. Kemudian iri, kemudian saya sungguh terobsesi pada
profesi ini bu…
Kemukus : Saya ingin saudara memberi alasan bukan baca
mantra !
Tokoh 2 : Begini bu (gugup) Hidup mereka tenteram
sekali bu. Tidur mereka nyenyak sekali. Sekarang ini, siapa coba yang bisa tidur
nyenyak kalau bukan mereka !
Kemukus : Saudara ! Apa Saudara tidak melihat bahwa semua
itu justru gambaran dari sikap putus asa ! Pengemis konvensional sama sekali
orang yang bersemangat memupuk bakat besarnya untuk tidur ! Saudara jangan
keliru ! Saudara jangan percaya dengan segala macam dongeng tentang tidur
nyenyak kalau sarana pendukungnya tidak benar. Hanya tidur nyenyak yang
dibangun oleh kerja keraslah yang secara sah harus dianggap tidur yang bermutu
! Kembali ketempat !!
TOKOH 2 MUNDUR TOKOH 3 MAJU. KEMUKUS KAGET DAN
HERAN
Kemukus : Saya belum merasa memanggil saudara !
TOKOH 3 KAGET. BERDIRINYA AGAK SEDIKIT TEGANG
Kemukus : Apakah hanya karena saudara merasa punya nomer
urut (marah) Setan apa yang membelenggu otak saudara. Hingga saudara
begitu fanatik dengan nomer urut ! Siapa yang menjamin bahwa dalam hidup ini
setelah nomer 2 harus nomer 3 ! Jawab !
Tokoh 3 : Bi… biasanya bu !
Kemukus : Biasanya ! Biasanyaa ! Lagi – lagi jawaban
klise itu pula yang kuduga akan keluar ! Saudara telah terjebak dengan sangat
parah kebiasaan nenek moyang ! Saudara adalah bebek ! Saudara menunggu
datangnya nasib semata, hanya dengan mengandalkan urut – urutan ! Sekarang saya
Tanya pada saudara ! Siapa yang menjamin nomer urut itu akan sampai ke giliran
saudara. Bagaimana kalau nomer urut itu tiba tapi jatah saudara sudah habis !
Ayo jawab !
TOKOH 3 SEMAKIN GEMETAR
Kemukus : Apa saudara akan berdiri terus seperti patung
mati ? Saudara tidak punya niat untuk merebut giliran. Mengubah angka 3 menjadi
2 atau 1 atau malah kembali ke 0 !
Tokoh 3 : Apa… apa boleh bu… Merubah giliran dari 3
menjadi 1. Apa itu… tidak… tidak ngeblong namanya !
Kemukus : Siapa yang tidak boleh ! Revolusi itu apa
artinya kalau tidak merebut giliran orang lain ! Hanya dengan revolusilah hidup
ini bergairah. Revolusi pula yang telah menandai kemajuan – kemajuan sejarah !
Mundur !!
TOKOH 3 MUNDUR DENGAN SISA GEMETAR. KEMUKUS
MENUNGGU LAINNYA.
Kemukus : Giliran selanjutnya !!
TOKOH – TOKOH TEGANG DAN SALING TOLEH MENEBEK
SIAPA YANG DIMAKSUD.
Kemukus : Giliran selanjutnyaaa….
TOKOH – TOKOH MASIH SALING PANDANG SATU SAMA
LAINNYA.
Kemukus : (menunjuk tokoh 4) Saudaraaa !
Tokoh 4 : (kaget dan maju dengan ketakutan) Si…
siapa bu…?
Kemukus : Tidak tahukah kalau sekarang giliran saudara !
Tokoh 4 : Saya… saya menunggu panggilan bu ! Saya
khawatir dianggap lancang !
Kemukus : Edan ! Sopan sekali calon pengemis yang satu
ini. Ternyata tidak gampang mengajak manusia konvensional ini menjadi manusia
yang avant grade ! Manusia masa depan ! Saudara…! Apa saudara tidak melihat
betapa mulut saya sampai pecah – pecah karena terlalu lama bicara soal
progresivitas ! Kenapa saudara menjadi pribadi yang loyo, yang hanya menunggu
dan tidak merebut kesempatan !
Tokoh 4 : Tapi bu… tadi ada yang maju sebelum dipanggil,
ternyata salah ! Dianggap lancang !
Kemukus : Itu karena salah dia sendiri ! Kenapa dia mau
saya katakana lancang. Saya mestinya kagum pada saudara ! (menunjuk tokoh 3, yang ditunjuk malah salah tingkah, senyam – senyum) Tapi
itu terjadi sebelum saya tahu apa alasan saudara ini maju (tokoh 3 kaget)
Lha… setelah tahu, ternyata dia goblok, saya benar – benar marah dan putus asa.
(menunjuk tokoh 3) mestinya saudara tadi menolak saya katakan lancang.
Saudara mestinya membalikkan tuduhan itu dengan mengatakan : Saya maju bukan
karena lancang. Tapi demi merebut kesempatan, begituuu…
Tokoh 3 : Bagaimana kalau diulangi bu…
Kemukus : Ha ha ha…
saudara mau melucu ya ? Saudara mau mengatakan bahwa sebenarnya tidak
ada masalah yang sulit bukan ? Terlambat ! Tapi catat : Bukan saudara yang
membuat jadi gampang, tapi orang lain. Hingga kesimpulannya saudara tetap go…
Tokoh 3 : Goblok bu…
Kemukus : Ha ha ha… bagus ! Kamu jujur ! Meski ini jelas
kejujuran karena kepepet ! (ke tokoh 4) Sekarang saudara… Apa motivasi
saudara jadi pengemis !
Tokoh 4 : Dari pada saya jawab apapun tetap hasilnya
salah, maka saya lebih bertanya pada ibu, apa sebaiknya motivasi saya.
Kemukus : (kaget) Edaan ! Saudara mendadak saja
jadi begini diplomatis
Tokoh 4 : Belajar dari pengalaman bu. Setiap guru yang
ngetes kecerdasan murid, tak pernah ada jawaban murid yang benar. Sepintar
apapun otak si murid tersebut.
Kemukus : Tapi soal motivasi itu soal yang mendasar, soal
pribadi saudara. Karena soal itulah
saudara punya alasan untuk masuk sekolah ini. Saudara harus punya dasar. Punya
alasan !
Tokoh 4 : Justru itu, saya datang kemari dalam rangka
mencari dasar dan mencari alasan bu.
Kemukus : Ha ha ha… luar biasa… luar biasa. Dengan cara
begini semua jenis psiko test akan rontok. Oke saudara. Saudara saya nyatakan
lulus paling awal. Bimbing teman – teman saudara untuk belajar kelompok,
kemudian kita adakan test lanjutan. Oke ! Salam pengemis !
KEMUKUS KELUAR DENGAN RASA GEMBIRA DIBELAKANGNYA
DI IKUTI PARA
TOKOH – TOKOH SAMBIL MENARI RIANG GEMBIRA.
BABAK 2
TERDENGAR MUSIK SYAHDU MENGIRINGI NY LEGOWO (IBU)
TERMANGU SENDIRI.
Ibu : Rasa – rasanya ingin sekali aku melengkapi
baktiku sebagai orang tua. Resep suatu kebahagian, ternyata tak Cuma ketika
dilayani. Tapi juga saat melayani ! Sekarang saatnya saya berbuat sesuatu untuk
anakku. Sesuatu yang dia tak pernah sekalipun memintanya.
NY LEGOWO TETAP MENERAWANG SENDIRI MUNCUL KEMUKUS
DAN RENGGANIS
MEMBUYARKAN LAMUNAN NY. LEGOWO.
Ibu : Kemukus anakku yang cantik, Rengganis cucuku
yang aku sayangi. Selamat datang. Salam sejahtera untuk kalian berdua.
Kemukus : Tunggu ibu ! Tunggu ! Dimana – mana, anaklah
yang harus lebih dulu memberi salam pada orang tuanya.
Ibu : Ha.. ha.. ha… bau kehormatan langsung merebak
begitu kau masuk di ruangan ini anakku. Padahal dimana ada kehormatan, disitu
pula letaknya salam. (menunduk)
Kemukus : Tunggu doong ! Ibu jangan memaksa saya merasa
lebih terhormat di banding orang tua saya sendiri. Saya bisa kuwalat !
Ibu : Kenapa ibu harus memaksanya kalau kehormatan
itu telah dengan sendirinya memancing salam.
Kemukus : Astagaaa, ibu… Eee… Mari anakku… mari kita
berlutut di hadapan orang tua kita.
KEMUKUS SUJUD. NAMUN RENGGANIS MEMPERLIHATKAN
KECONGKAANNYA
SEHINGGA NY. LEGOWO TERSINGGUNG.
Ibu : Hentikan anakku ! Hentikan ! (sinis)
Tanpa menghormatpun, tak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Begitu
kamu lahir jebrol, Kamu justru memberaki ibumu ketimbang menghormat. Tapi betapa
karena berakmu itu ibumu malah mati – matian mencintaimu, demi menahan nyawamu
agar betah bertahan, aku rela berbuat apa saja nak : Termasuk ngemis !
Kemukus : Selama ini, rasa - rasanya Cuma ibu melulu yang
berusaha membuat saya bahagia. Saya belum melakukan apa – apa untuk ibu.
Ibu : Anakku. Kebahagiaanku, justru ketika kau tak
berbuat apa – apa !
Kemukus : (tersinggung) Ibu ! ibu menyinggung
perasaan saya.
Ibu : (balik tersinggung, keras) Apa saya
tidak super tersinggung !
Kemukus : Bagaimana mungkin, niat mencintai malah membuat
ibu tersinggung !
Ibu : Bagaimana mungkin kau bisa mengatasnamakan
cinta kalau yang kau lakukan justru sesuatu yang sangat kutakutkan.
Kemukus : (senewen lalu menangis) Ibu… Ibu masih
merasa diri ibu sebagai pengemis.
Ibu : (tegas) Apa kamu sudah tidak merasa
dirimu sebagai anak pengemis?
Kemukus : Saya masih anak ibu ! Seperti yang dulu !
Ibu : Dan saya tetap pengemis ! Seperti yang dulu !
Kemukus : (menangis) Tuhan… beri saya kekuatan
untuk meyakinkan orang tua ku bahwa segalanya telah berubah !
Ibu : Ya… Ya ! Segalanya memang telah berubah menjadi
lebih mengerikan.
Kemukus : Ibu menganggap perubahan status ini mengerikan
? Ibu lebih suka dengan dunia ibu yang lama sebagai pengemis jalanan ? Ooh…
Jangan – jangan… Jangan – jangan ibu sedang dilanda post power syndrom ! (melangkah
menjauh) Oalah bu… bu… Post power syndrom itu kan kalau dulu ibu seorang
pejabat ! Lha Orang ngemis saja kok di power syndromi ! Nyebut bu. Nyebut…!!!
Ibu : Kemukus, anakku. Jangan dikira aku tidak malu
jadi pengemis. Sangat malu. Sangat amat malu sekali. Tapi pada puncak rasa malu
itulah aku malah jadi tidak malu sama sekali. Aku memang kagum dengan bakatmu
yang luar biasa itu, kamu sanggup merubah penderitaan orang tuamu menjadi
sebuah lahan kehormatan yang tak pernah aku sangka – sangka. Dunia ngemis –
mengemis telah kamu sentuh menjadi sebuah tambang emas. Hingga akhirnya.
Lembaga pusat pendidikan pengemismu kini telah tumbuh menjadi sebuah Holding
Company. Dan kini statusmu sudah melampaui raja midas. Jadi kesimpulannya,
hormat – menghormat itu bukan soal yang mendesak benar. (meninggi) Lebih
– lebih ketika tradisi hormat secara resmi baru – baru ini saja diberlakukan.
Tegasnya setelah kau menikah, atau lebih tegasnya lagi setelah kau merasa
sukses !***
Kemukus : Ibu… (gugup) pasti ibu telah makan
dengan menu yang salah ! Hati – hati ibu… menu yang salah tidak Cuma akan
meningkatkan kadar gula dan kolesterol. Tapi bisa juga mengacaukan kejernihan
pikir, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin.
Ibu : Tidak anakku… aku tak pernah berani
mengkonsumsi makanan yang aku sendiri tidak suka. Apalagi akhir – akhir ini
penyakit rematikku sering kali kambuh !
Rengganis : (menyela sinis) Mami… Benarkah kutukan
itu ada ?
Ibu : (kaget) Aku mendengar kata – kata mami
disarang pengemis ini. Luar biasa, panggilan yang cuma berlaku untuk orang –
orang kaya dan orang yang baru berangkat kaya itu, ternyata mulai dipakai kaum
pengemis.
Rengganis : Saya bertanya lagi pada mami. Kalau saja
kutukan itu terucapkan, benarkah hidup kita taruhannya ? ( kemukus gelisah)
Tenang mam… Rileks ! Menjadi orang miskin yang sukses memang jauh lebih mudah
ketimbang menyakinkan orang lain bahwa kita benar – benar telah sukses Mam !
Bukan kita yang tak siap sukses, tapi justru orang – orang itu. Mereka selalu
merong – rong kita dengan sebutan OKB ! Mereka menganggap semua tingkah laku
kita tak lebih dari sekedar dagelan. Sesungguhnya siapa Mam.., siapa yang
sedang jadi badut dalam hal ini. Kita atau mereka ?
Ibu : Gusti… Ada badut tega – teganya mentertawakan
badut ! Kenapa jarang ada badut yang sadar kalau dirinya badut !
Rengganis : Heeh, Mami tidak juga menjawab pertanyaanku.
Kemukus : Lha bagaimana mau menjawab, sayang. Dari tadi
kau ngomong melulu !
Ibu : Astagaaa ! Sayang ha.. ha.. ha…
Rengganis : Saya melihat sinar mata Mami mulai ragu – ragu.
Mami harus kuat, jangan jadi ragu – ragu gara – gara OKB !
Kemukus : Sayang…! Jangan salah paham dooong, mau
dikatakan OKB, ABG, atau EBIET G ADE siapa yang peduli. Aku ragu – ragu karena
beliau orang tua kita !
Rengganis : Berarti Mami masih memperhitungkan kutukannya ?
Kemukus : bu… Bukan ! Lha kutuk mengutuk itu hanya
berlaku pada jaman sahibul hikayat dulu, ketika jaman masih steril. Lha jaman
sekarang kutukan apa lagi yang bisa dipercaya. Bagaimana mungkin sama – sama
pihak terkutuk bisa saling kutuk.
Rengganis : Kalau begitu tunggu apa lagi, segera saja kirim
dia ke panti jompo !
Kemukus : Ke panti jompo ? Tapi beliau orang tuaku,
eyangmu sayang. Masak kita korbankan ?
Rengganis : Mam, kalau mami sudah memilih sukses, jangan
berpikir romantis soal korban !
Kemukus : Lhah, soal korban itu kan bukan barang baru
bagi kita. Tapi begitu korban adalah orang tua kita… masalahnya jadi tidak sederhana,
sayang !
Ibu : Ternyata aku keliru menganggap anak adalah
tabungan hari tua. Untuk itu orang tua jaman sekarang harus meninjau ulang
kebanggaannya terhadap anak – anaknya. Karena orang tua sekarang tidak bisa
nunut urip secara gratis pada anak – anaknya, Hanya karena alasan dia pernah
melahirkan, membesarkannya. Heh… ternyata tidak ada yang gratis di dunia,
bahkan sampai kita merasa punya tabungan anak sekalipun.
Rengganis : Mam… Kenapa dalam membuat daftar korban Mami
jadi begini lemah. Mami pikir saya tidak mengorbankan masa depan saya, masa
remaja saya telah saya sebratkan begitu saja. Jangan dikira saya mounster yang tidak lagi memiliki rasa, saya
masih manusia Mam… Tapi apa yang aku lihat sekarang ini adalah pemandangan yang
akan mengacaukan cita – cita yang telah kita bangun bersama.
Kemukus : Wouu… bernafsu sekali kata – katamu sayang ?
Rengganis : Terpaksa.
Kemukus : Berhubung cara meyakinkanmu sudah sedemikian
bernafsu, rugi to kalau aku tidak terpengaruh. Oke, ku setujui kata – katamu.
Korban adalah korban, soal klasifikasi korban adalah persoalan kesekian.
Rengganis : Buktikan Mam…!
Kemukus : Aku makin sadar akan peran seorang anak dalam
keluarga. Sungguh ! Makin membuat ketersesatan ini kian sempurna… Mari… mari
kita singkirkan kerikil dalam perasaan. Karena perasaan adalah hambatan bagi
dunia baru !
Ibu : Oh… tidak gusti… tidak… jangan biarkan aku
mengutuk anakku sendiri (merasa ada yang keluar dari mulutnya) Tahan
mulutku gusti… Oh… Kutukan itu telah mengalir begitu cepatnya… Ah… Dia sudah
sampai ke ujung lidah… Tahanlah gusti… Tahanlah…!
Rengganis : Tahan saja…! Ketimbang sudah keluar tapi tidak
mempan. Lha Wong mau ngutuk saja kok dasarnya like and dislike.
Ibu : Terima kasih gusti… kutukan itu melorot lagi ke
kerongkongan… Jangan biarkan dia naik… Jangan biarkan dia naik lagi gusti…!
Rengganis : (SINIS) Mam… Barang kali korban itu
tidak Cuma hanya satu, bila perlu tambah beberapa lagi !
Ibu : (meradang) Ooh… demi revolusi yang telah
membuat diriku menjanda berabad – abad jiwa. Dengar…! Siapapun boleh
mendengarnya. Aku memang malu jadi pengemis. Tapi ternyata aku harus lebih malu
melihat darah biruku tidak menetes pada keturunanku. Darah sebagai pengemis
sejati ! Gusti… Ternyata kesejatian itu tak bisa secara otomatis menurun
begitu
saja. Karena ternyata sebuah perkawinan bisa mengacaukan darah. Darahku
bercampur dengan darah orang lain, dan akhirnya darah biru pengemisku tercemar.
Meskipun orang itu adalah… Suamiku sendiri ! Gusti… ternyata aku lebih merasa
jadi manusia ketika aku masih berada dijalanan… Aku akan kembali padanya… Aku
akan kembali ke jalan… Sekarang… Ya sekarang… Selamat tinggal semuanya… (lari
keluar)
BABAK 3
TERDENGAR MUSIK PENGIRING TOKOH – TOKOH MASUK.
MEREKA TELAH GANTI
PAKAIAN.
Tokoh 4 : Naa… cocok saudara. Cocok. Ya begini ini kostum
pengemis masa depan, trendy (semua pada
tertawa) Sekarang kita yakinkan pada Ibu Kemukus yang mulia, bahwa kita
telah siap menjadi pengemis masa depan !
SEMUA PADA GEMBIRA
Tokoh 4 : Nah, sekarang testing intern. Dengan rendah
hati biarlah saya yang paling cerdas diantara kalian ini menjadi testernya.
Sekarang giliran yang pertama !
SEMUA PADA DIAM, BAHKAN SALING PANDANG.
Tokoh 4 : (menunjuk tokoh 1) Wee… kamu goblog !
Tokoh 1 : Saya saudara ?
Tokoh 4 : Aduh, gimana sih ! Lha… apa gunanya Ibu
Kemukus bilang progresif…
progresif dan progresif kalau
ternyata belum nyantel di kuping saudara. Lha, testing ulangan saja masih
goblog begini, bagaimana mau minta lulus.
Tokoh 1 : (sombong) Eee… Saudara jangan salah
paham !
Tokoh 4 : Edaan, mbantah !
Tokoh 1 : Justru saudara yang terancam tidak lulus !
Saudara masih menjadi pengemis konvensional ! Calon pengemis masa depan
mengartikan progresif justru ketika dia berani mundur, bukan maju.
Tokoh 4 : Ha ha ha baru dikuliahi sebentar saudara ini
telah mendapat kecerdasan ekstra. Meski kecerdasan untuk tersesat.
Tokoh 1 : (tegas) Tidak saudara. Saudara salah
sangka. Progresif yang berarti maju adalah kuno. Progresif yang sejati justru
ketika kita sanggup menahan diri. Saya adalah satu – satunya pengemis yang akan
menerapkan sikap sinis pada pemberi sedekah !
SEMUA RAMAI, MENGGERUTU TANDA TAK SETUJU.
Tokoh 1 : Makin besar sedekahnya, saya justru akan makin
sinis !
SEMUA TOKOH PADA GADUH. MENCEMOOH.
Tokoh 1 : Na… too ! Kalian to yang akhirnya konvensional.
Saudara tidak berani menentang arus sih !
Tokoh 4 : Tunggu saudara… tunggu ! Kalau buat teori itu
yang masuk akal too ! Apapun bentuk teorinya, esensi ngemis itu ya demi sedekah
itu sendiri. Boleh saudara sinis pada klien, boleh ! Tapi itu demi meningkatkan
omset. Kalau sudah tinggi omsetnya masih tetap sinis, ya nggak jadi dikasih
sedekah too ! Goblog gitu kok !
Tokoh 1 : (ngoto) Nah, toh. Saudara nanti yang
terancam tidak lulus. Ngemis masa
depan itu orientasinya bukan
sedekah. Lah kalau masih terima sedekah balik lagi jadi tradisional too.
Tokoh 4 : (marah) Lah lalu hasilnya ?
Tokoh 1 : Lhoo ya tidak mengharapkan hasil to yaa. Tapi
yang penting kita kan bisa ngemis sambil sinis. Saya tidak mau ngemis dengan
cara yang ngemis – ngemis.
Tokoh 4 : Lha terus makan apa ! Mati lho kamu !
Tokoh 1 : Memang ! Tapikan mati dengan sombong !
Tokoh 4 : Ha ha ha… Oke, oke ! Minimal teori saudara
sudah aneh mesti konyol. Ini sudah lumayan. Giliran berikutnya sekarang.
Tokoh 2 : Saya saudara !
Tokoh 4 : Apa konsep ngemis saudara.
Tokoh 2 : Eeng… konsep yang dikembangkan saudara saya
tadi agaknya tidak masuk akal saudara. Kalau
niat dia agar dia bisa mati dengan sombong, ya langsung mati saja.
Kenapa harus jadi pengemis segala !
Tokoh 4 : Trus !
Tokoh 2 : Saya dengan rendah hati masih tetap mengaku
sebagai pengemis. Bedanya saya berusaha mendekatinya dengan sikap yang lebih
artistic.
Tokoh 4 : Wee… sebuah gagasan baru. Pengemis artistic.
Konkretnya saudara ?
Tokoh 2 : Lihat disain tambalan di pakaian saya. Tambalan
ini mengilhami saya. Dan ini sebetulnya kapling iklan buat investor !
Tokoh 4 : Edaaan ! Trus ! Maksudnya kepiye itu… piye ?
Tokoh 2 : Selama ini, pengemis tradisional itu selalu
membiarkan tambalan bajunya sebagai tambalan. Sekarang kita harus merubahnya !
Tokoh 4 : Merubahnya ! Caranya saudara, caranya ha ha ha
!
Tokoh 2 : Satu tambalan berarti satu logo sponsor. Semakin
banyak tambalan berarti kita pengemis yang sukses meraup iklan !
Tokoh 4 : Ha ha ha… fantastis ! Pengemis jenius ! Oke…
oke ! Kalau dulu semakin susah, sekarang mbalik jadi gemah ripah, toto tentrem
kerto raharjo ha ha ha… baik ! Kita jadikan diri kita proposal berjalan.
Sekarang giliran yang paling akhir ! Saudara !
TOKOH TIGA MAJU
Tokoh 4 : Siap dengan konsep ?
Tokoh 3 : Seorang yang kreatif tidak buru – buru
berkonsep, saudara !
Tokoh 4 : Jangan waton aneh to…
Tokoh 3 : Biarkan para pendahulu merumuskan konsepnya.
Beramai – ramai melempar konsep. Kita tinggal pasang kuping dan… membajaknya…
Tokoh 4 : Ha ha ha… bagus – bagus… ! Sorot mata saudara
memang sangat identik dengan pembajak.
Tokoh 3 :
Terima kasih.
Tokoh 4 : Tapi jangan dikira pembajak itu tidak penting.
Semakin banyak pembajak dilahirkan para penemu juga akan semakin banyak
bermunculan. Pembajak adalah katalisator ! Jadi semua ini ada fungsinya, tak
usah di kutuk, apalagi dimusuhi. Truss… kokretnya !
Tokoh 3 : Kembali ke soal logo sponsor itu, saudara.
Gagasan kawan kita tadi, sangat cerdas, namun masih sangat dasar sifatnya.
Tokoh 4 : Truss maksudmu !
Tokoh 3 : Sebagai mana sifat kaum pembajak, ide harus
dijual secara sophisticated. Lebih meyakinkan klien, begitulah.
Tokoh 4 : Iyaa… tapi piyee !
Tokoh 3 : Tentang tambalan ini ya, saudara. Ini adalah
gambaran konkret bagaimana para pengemis itu nanti punya daerah pemasarannya
sendiri – sendiri.
Tokoh 4 : Woo… pangsa pasarrr !
Tokoh 3 : Naa… itu istilahnya, saudara. Soal segmentasi.
Karena yang namanya klien itukan segmented saudara.
Tokoh 4 : Wuaa bahasa asing he… he… pengemis intelek !
Truss ?
Tokoh 3 : Artinya, pendekatan pemasaran kita benar –
benar harus dengan strata ekonomi pasar Saudara. Bagi yang kadar bakatnya
rendah seperti saudara kita ini (merangkul tokoh 1) Cukup melayani iklan
eceran. Persis seperti wajah tambalannya itu saudara.
Tokoh 4 : Ha.. ha.. ha.. seperti iklan bengkel las,
kenteng magic, pabrik garam dsb… dsb itu ya ? Ha… ha… ha… bagus, truss !
Tokoh 3 : Makin cerdas pengemisnya, makin selektif
menerima iklan. Contohnya saya dan teman kita yang satu ini, saudara (merangkul
tokoh 2) cukup dua atau tiga tambalan, karena kami memang Cuma butuh iklan
yang bergengsi.
Tokoh 4 : Fantastis. Lha kalau kecerdasannya itu diatas
kalian, seperti saya misalnya.
Tokoh 3 : Persis seperti kostum saudara. Tambalan satu
tapi besaarrr…
Tokoh 4 : Artinya ?
Tokoh 3 : Itu berarti saudara Cuma menerima sponsor
tunggal.
Tokoh 4 : Yaak ! Saya puas melihat perkembangan
kecerdasan saudara semua. Kita minta ujian pada ibu kemukus. Kita tawarkan
segenap proposal yang spektakuler ini.
TOKOH – TOKOH MENARI BERGEMBIRA. MUNCUL KEMUKUS
DAN RENGGANIS.
Kemukus : Lihatlah sayang… inilah generasi dunia
baru. Pengemis masa depan !
Tokoh 4 : Begini bu… non… kami disini dalam rangka ingin
menempuh ujian akhir… Kalau perlu sekaligus pengujian skripsi.
TOKOH – TOKOH PADA CENGENGESAN.
Kemukus : Oke… oke. Kami berdua akan bertindak sebagai
dosen penguji. Silahkan anakku… sekarang saatnya giliranmu untuk mengujinya !
Rengganis : Saudara nomer 1 (naik level) Apa judul
skripsi saudara ?
Tokoh 1 : Setelah meneliti secara seksama fenomena
kepengemisan di negri ini, saya menyiapkan judul : Ngemis, antara Mentalitas
dan Kebudayaan !
SEMUA PADA CENGENGESAN.
Kemukus : Waah… gagah sekali saudara he.. he.. he…
Rengganis : (tegas) Saudara ! Saya tidak ingin
skripsi saudara hanya terjebak gagah di judul, seperti judul di seminar –
seminar. Ini riset soal kehidupan. Teori saudara harus konkret !
Tokoh 1 : Konkret non !
Rengganis : Tapi judul yang saudara pilih memberi kesan
mengangbang. Di mana letak pengemis di antara mentalitas dan kebudayaan seperti
yang saudara maksudkan ?
TOKOH – TOKOH MULAI RAMAI MEMBICARAKANNYA.
Tokoh 1 : Begini non. Ngemis itu adalah persoalan mental
non. Tapi bisa juga persoalan kebudayaan. Artinya mental yang dibudidayakan dan
budaya yang dimentalkan. Jadi mentalitas itu adalah kebudayaan dan kebudayaan
bisa juga adalah mentalitas. Sebab non, apakah gunanya mental tanpa kebudayaan
dan kebudayaan tanpa mental. Bagi saya hal ini harus mengalami transformasi
ide. Yang transformasi itu akan menimbulkan dampak kontaminasi skripsi.
TOKOH – TOKOH TEPUK TANGAN RIUH.
Tokoh 2 : Ha… ha… ha… ruwet… ruwet…
Tokoh 1 : (kian semangat) Bayangkan saudara –
saudara… kalau saja dunia pengemis ini telah dibekukan dalam status quo, maka
yang quo itu pasti akan menjadi quo vadis. Lha bayangkan kalau sudah timbul
gejolak cultural semacam ini. Pasti semua yang cultural itu akan bergejolak
dong !
SEMUA TOKOH MEMBERIKAN REAKSI.
Kemukus : Lulussss !
Rengganis : Mam ! Calon seperti apa yang mami bawa kemari.
Dia golongan manusia yang suka berlagak tanpa ngerti arti bicaranya sendiri.
Kemukus : Sudah to sayang… sudah ! Jangan ketat – ketat
to. Kendor sedikitlaah. Siapa tahu skripsi itu memang jiplakan. Kan ya repot
orang njiplak harus pinter sungguhan. Sudah… kamu kembali ketempat ! Ganti
giliran berikutnya…!!!
TOKOH 2 MAJU
Kemukus : Apa judul skripsimu…??
Tokoh 2 : Judul saya sederhana bu. Judul ini saya pilih
setekah saya melakukan penelitian intensif pada dunia pengemis dan mengalaminya
sendiri selama 2 tahun. Judul skripsi saya adalah… Ngemis, sebuah alternatif
bagi pengentasan desa tertinggal dan pemasok sumber daya non… mi… gas…
Kemukus : Weee… seremm… sereemm. Lulusss… ijazahnya mau
diambil sekalian ?
Tokoh 2 : Titip dulu saja bu… Terima kasih.
Rengganis : Mam, dia belum sempat ditanya bagaimana judul
itu di jabarkan secara konkret !
Kemukus : Ayoolah sayang… sudah too. Bayangkan saja, dia
kan memberi gambaran yang jelas mengenai pemecahan kesulitan di negri ini. Kita
dukung too… didukung… Ayo selanjutnya !
TOKOH 3 MAJU
Rengganis : Program apa yang saudara tawarkan ?
Tokoh 3 : Kalau saya lebih pada pembenahan kedalam non.
Karena dunia kami ini
belum
akan menjadi alternatif sebelum sumber dayanya sendiri solid. Skripsi saya
nanti Cuma berisi data yang memuat profil seratus tokoh pengemis sukses lengkap
dengan alamat, nomer telepon, berapa perusahaannya, berapa sahamnya, berapa
simpanannya serta filsafat hidupnya. Buku ini nanti akan menjadi acuan yang
sangat berharga bagi generasi berikutnya yang akan mengikuti jejak
pendahulunya.
Kemukus : Luluuusss… ha… ha… ha… langsung lulus ! Ayo
sekarang yang terakhir !
RENGGANIS SEWOT, MASUK TOKOH 4
Kemukus : Skripsi saudara ?
Tokoh 4 : Saya pikir, saya sudah tidak perlu membuat skripsi
lagi bu.
Kemukus : Edaannn… Lancang ! Umpak – umpakan.
Tokoh 4 : Maaf ibu Kemukus yang terhormat. Saya lihat,
ibu telah menyetujui semua judul skripsi rekan – rekan saya.
Kemukus : Bener !
Tokoh 4 : Perlu ibu ketahui, bahwa ketiga gagasan yang cemerlang
tadi adalah hasil pikiran saya. Artinya, begitu otak mereka bertiga bila
digabungkan, baru bisa menyamai kadar gagasan saya.
Kemukus : Weee… sembronooo… ha.. ha.. ha.. tapi baik :
Lembaga ini membutuhkan orang congkak sepertimu ! Konon kesombongan disayang
oleh nasib ! Oke. Lulusss !
TOKOH – TOKOH PADA GEMBIRA, KEMUKUS MENEMPATKAN
DIRI DI LEVEL LAIN.
Kemukus : Saya sudah plong saudara. Sudah blong. Dengan
sumber daya seperti kalian, kita akan membangun sebuah dunia baru. Dunia dimana
kita yang menjadi arsiteknya. Hanya satu kelengkapan dari saya yang akan
melengkapi gagasan saudara. Yaitu soal kostum ! (tokoh – tokoh pada bereaksi
tegang) Saya bangga ! Saudara telah melakukan terobosan yang sangat kreatif
dalam hal kostum. Tapi ada cacat dasar yang saudara lupakan, yakni soal
tambalan. Apapun tawaran kemewahan pakaian saudara, semasa tambalan itu ada,
maka saudara tetap saja konvensional ! Jadi sempurnakan gagasan itu dengan
membuang semua cap yang selama ini menodai dunia pengemis. Buang semua tambalan.
Kostum kita saat ini adalah jas dan dasi ! (Kemukus memberikan kostum pada
tokoh – tokoh) Nah, sekarang dengarkan ! Kita sedang menyiapkan rancangan
dunia baru. Dunia yang butuh citra, butuh image. Tapi kami telah kehilangan
seorang pesakitan yang telah lari dari rumahku. Pesakitan itu adalah ibuku
sendiri, dia adalah skrup yang telah lepas dari fungsinya, kalau sampai dia
turun ke jalan dan melakukan praktek liar dia, akan mencermarkan nama baik
perusahaan ini. Brangus pesakitan itu. Ini perintah !
BABAK 4
SEMUA PADA KAGET, NAMUN TETAP SAJA MENURUTI
PERINTAH. TOKOH –
TOKOH KELUAR DI IKUTI KEMUKUS DAN RENGGANIS DI
TEMPAT LAIN
TERDENGAR SUARA NYANYIAN SEDIH.
Ibu : (menangis) Gusti… beri saya kuat, gusti.
Beri saya sabar menghadapi perbedaan pendapat yang telah menjadi perbedaan
ideologi ini. Jangan duh gusti… jangan sampai hambamu ini gagal membendung rasa
marah. Karena kemarahan orang tua adalah kemarahanmu juga. Dan jangan sampai mulutku gagal
mengendalikan kutuk yang telah merambat hampir ke ujung lidah ini. Biarlah hak
mengutuk yang engkau berikan ini menjadi tabungan hari terakhirku, yang tidak
akan kucairkan kalau tidak benar – benar kepepet. (terkejut) Berubah…
semuanya telah berubah. Di mana – mana telah terpasang papan larangan. Di larang
ngemis ! (mengendap – endap) … di traffic light, dijalan – jalan
protocol… di semua pos – pos basah telah ditutup dan dijaga. Gusti… dimana…
dimana semua relasiku yang dulu. (naik level) Duuh… gusti… ternyata
mereka telah disingkirkan dan dilenyapkan. Ooh… kota ini agaknya sedang
bersemangat menjadi peserta lomba kebersihan antar propinsi, mereka menukar
manusia dengan sebuah piala. Ooo… tidak kawan – kawanku, tidak. Kita adalah
bagian dari hidup dan kehidupan mereka. Kita tidak bisa lenyap dan dilenyapkan
begitu saja. Ternyata kota ini sedang merias dirinya menjadi badut. Haahh,
tebal sekali gincunya ha.. ha.. ha… Barang siapa tebal gincunya maka sudah
pasti tebal pula boroknya. Ha.. ha.. ha… (asyik dengan diri sendiri)
TIBA – TIBA ROMBONGAN TOKOH – TOKOH MASUK
Tokoh 4 : Kawan – kawan, coba lihat ! Itu orang yang
sedang kita cari. Kita tanyai saja. (menedekati) Maaf bu. Nuwun sewuuu…
Apakah benar ibu ini adalah ibundanya ibu Kemukus, yang menghebohkan itu…
Ibu : He.. he.. he… betul nak, betul. Walau semestinya
aku malu disebut sebagai ibunya. Masak, ada pengemis beranak pengusaha. Ini
keterlaluan too.
TOKOH – TOKOH BINGUNG PADA SALAH TINGKAH.
Tokoh 4 : Gimana ini saudara – saudara. Piye too kii. Tak
tahunya kita harus menghadapi konsep sukses yang demikian dramatis.
Tokoh 1 : Benar, sukses ya sukses… tapi kalau sampai
harus minta tumbal orang tua sendiri kan mengerikan. Tumbal kan cukup orang
lain.
Tokoh 2 : Saya ini gigih meraih sukses juga karena
dorongan orang tua, terutama mertua saya je. Lha kalau sudah sukses tidak bisa
pamer mertua apa artinya…
Tokoh 3 : Begini saudara – saudara. (lagaknya
berdakwah) Saya punya ide, saya punya ide. Tata cara meraih sukses memang
harus progresif. Harus edan – edanan. Tapi kalau sudah sukses harus kembali ke
konvensional. Adalah bohong kalau manusia itu bukan mahluk primitif. Jujur
saja, dorongan sukses itu siapa coba yang berperan. Adalah anak, istri, mertua,
orang tua, pacar dan kampung halaman. Kalau mereka semua dibuang, kapan kita
bisa jual tampang. Kalian akan menderita kalau sudah sukses tapi tidak lagi
punya kampung halaman. Kalian tidak bisa lagi mudik. Gawat ! Ketika manusia
tidak lagi bisa mudik adalah bencana. Tidak, saya tegas – tegas menolak sukses
kalau tak ada lagi yang ditugasi untuk kagum pada kesuksessan !
Ibu : Ha.. ha.. ha… aku terharu nak. aku terharu.
Kalian ini semua masih menyisakan hati nurani meski tetap saja bajingan. Ayo
tangkaplah. Jalankan tugasmu dengan baik. (tokoh – tokoh pada melongo)
Ayolah.
Aku
memang bersimpati pada kalian. Tapi bukan berarti aku minta belas kasihan.
Karena betapapun rasa simpatiku tetap tak bisa menghapus kenyataan kalau kalian
ini adalah bandit !
Tokoh 4 : Maaf bu, maaf. Ibu juga jangan salah sangka.
Kalau kami menolak menangkap ibu bukan berarti kami kasihan sama ibu. Tidak bu…
tidak. Kami menolak karena kami sedang bersimpati pada nasib kami sendiri.
Tokoh 1 : Ya bu. Pada nasib orang tua kami, mertua kami.
Kami menolak sukses kalau harus menghilangkan mereka.
Ibu : He.. he.. he.. boleh ! boleh ! Itu sepanjang orang
tua kalian, mertua kalian adalah
skrup dari kesuksessan itu sendiri. Tapi sepanjang mereka kalian tempatkan
sebagai manusia konvensional ha.. ha.. ha.. jangan mimpi. Kalian kepalang
terikat doktrin !
Tokoh 2 : Kalau begitu ! Saya menolak sukses edan semacam
ini. Saya Stresss… saya streesss.
Tokoh 3 : Tunggu saudara… jangan panik. Ini godaan
keyakinan. Tapi jangan enak saja mbalik ke jaman dulu. Miskin stress, kaya juga
stress. Mendingan pilih yang terakhir saja. Kita jangan stress sambil miskin !
Rugi dua kali !
Ibu : Ha.. ha.. ha… ternyata sestres – sestresnya
saya, masih lebih leluasa menikmati stress orang lain. Ayolah nak, tangkap aku
! Biarkan anakku yang hebat itu membuktikan teori suksesnya. Ayolah ! Kalian
juga termasak generasi pemburu sukses… ayolah ! Kalian juga termasuk generasi
hunter itu bukan ? (Ibu mendekati para tokoh, namun para tokoh malah lari
kebingungan) Piye to iki ! Kalian mau nangkap aku apa mau bingung !
TOKOH – TOKOH PADA BINGUNG, AKHIRNYA LARI KELUAR
DAN DIIKUTI IBU.
Kemukus : Sayang ! Semua teori yang telah kita pelajari
ternyata terbukti. Saya betul – betul plong sekarang. Ketika rumus
menghilangkan perasaan ini saya praktekan, enteng kepala saya. Ringan. Malah
saya seperti tidak berkepala lagi.
Rengganis : Godaan mami saat ini Cuma tinggal satu yaitu
kalau bayangan tentang hubungan antara orang tua dan anak muncul kembali.
Kemukus : Oohh… jangan kuatir sayang. Jangan kuatir !
Saat ini, aku betul – betul telah murtad dengan sempurna. Apalagi mengingat perkembangan
usaha ini telah mencatat rekor yang fantastis. Dalam waktu singkat akademi kita
sudah menjalin network. Ha.. ha.. ha… sungguh ternyata hidup ini penuh dengan
humor. Hanya dengan ngemis kita telah sanggup menguasai hampir tiga perempat
pos ekonomi negri ini. Kita sudah cukup modal untuk merubah cokro manggilingan
alias wolak – waliking jaman. Sekarang ganti kita yang memaksa orang lain untuk
ngemis di depan pintu rumah kita. Ha.. ha.. ha… ini hiburan sayang… Dan kita
telah memiliki tim yang solid, para staf kita adalah tenaga ahli yang cemerlang
intelegensinya !
Rengganis : Karena factor intelegensi itu mam… meraka bisa
menjadi sumber maslah !
Kemukus : Lha khok !
Rengganis : Apa dikira gampang punya staf yang pinter ! Itu
sama saja seperti memelihara anak macan !
Kemukus : Lha ! Segalak – galaknya macan, dia akan
menjadi jinak dan manis kalau kita pelihara dari kecil.
Rengganis : Siapa bilang mam ! Kalau ada macan bersikap
manis itu bukan karena ia benar – benar berubah. Hanya ada dua jalan untuk
membuat macan menjadi jinak ! Membuatnya ompong atau membiarkannya selalu dalam
keadaan kenyang. Sedikit saja dia lapar, nalurinya akan kembali seperti
kodratnya. Ia akan lebih berpikir soal perut ketimbang patuh pada tuannya.
Kemukus : Woow… sebuah riset biologi baru ya ! Jadi ?
Rengganis : Kita harus membuatnya ompong !
Kemukus : Ooo… itu tidak mungkin too, sayang. Ompong
mereka, ompong pula kita.
Rengganis : Kalau begitu, buat mereka kenyang ! Dan itu
mahal ongkosnya mam.
Kemukus : (angkuh) Seberapa mahalnya sih ?
Rengganis : Seharga perusahaan baru, satu bakat, satu badan
usaha, empat bakat berarti empat badan usaha !
Kemukus : Fantastis ! (termangu) Tapi uang kita
akan terkuras habis, hanya untuk memanjakan mereka.
Rengganis : Manajemen Modern itu, membiarkan orang lain
jadi pemimpin, tapi masih tetap jadi anak buah. Dan biarkan mereka bekerja
keras mencari laba, akhirnya toh kita yang mengaturnya.
Kemukus : Jenius ! Hebat ! Dahsyat sekali Cleopatraku !
Rengganis : Tapi tunggu dulu mam ! Mereka harus menemukan
dulu pesakitan itu !
MUSIK MERAYAP PERLAHAN, IBU MASUK DENGAN PARA
TOKOH BERIRINGAN.
Ibu : (dari dalam) Aku datang…
Kemukus : Tepat pada waktunya ! Staf ku yang canggih…
MEREKA MASUK DENGAN MEMAKAI KOSTUM PENGEMIS,
KEMUKUS KAGET.
Kemukus : Demi Yupiter, ada barang antik lewat !
Rengganis : Mereka pelarian dan para staf, mam…
Tokoh 1 : (membaca mantra seperti awalnya masuk)
Kemukus : Lhoh ! Lha kok malih ke jaman dulu lagi. Kok
kere lagi ?
Tokoh 2 : (membaca mantra seperti awalnya masuk)
Kemukus : Ini juga ikut – ikutan mbalik lagi, jadi kere
lagi. Setan apa yang membelenggu
kepalanya ?
Tokoh 3 : (membaca mantra seperti awalnya masuk)
Kemukus : Bergajul ini juga mbalik jadi manusia primitif.
(mendekati tokoh 4) Oh… tidak… kamu stafku yang paling cemerlang… paling
cerdas… ayo… cukup… kalian pasti sedang gojeg to, sedang bercanda ? Ayolah…
kamu pasti Cuma pura – pura bukan ?
Tokoh 4 : (membaca mantra seperti awalnya masuk)
Rengganis : Ini pasti karena hasutan orang tua itu.
Membunuh ular harus kepalanya dulu yang dipenggal. Brangus dia mam !
KEMUKUS MENCOBA MERANGSAK IBUNYA NAMUN DIHALANGI
OLEH PARA
TOKOH.
Kemukus : Ayolaah… hentikan segala lelucon kalian.
Hentikan ! Hentikan ! (semakin bingung) Ayolaah… hentikan ! Ooh…
kiamaatt… kiaamaaattt ! (jatuh)
KEMUKUS TERJATUH, RENGGANIS MENGHAMPIRINYA DAN
IKUT TERJATUH.
LAMPU PADAM DAN SELESAI.
UCAPAN TERIMA KASIH, UNTUK :
MAS PRIE GS
MAS TON
KELUARGA BESAR TEATER LINGKAR
KELUARGA BESAR TEATER SUKMA
PECINTA, PEMERHATI SENI PERAN
DI SEMARANG
REKAN PEKERJA SENI PERAN DI
SEMARANG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar