Senin, 07 Januari 2013

Naskah Drama I

Konbanwa minna...

 hari ini mimin bella mau share naskah drama yang mimin punya...  semoga bermanfaat


BLONG
BABAK  I

MUSIK PELAN – PELAN MERAYAPI PANGGUNG. PERLAHAN TOKOH MASUK
DENGAN PAKAIAN PENGEMIS. SINAR LAMPU PERLAHAN – LAHAN TERANG.

TokohTokoh    : (bersama – sama seperti membaca mantra) Marilah pak, marilah bu, beri kami selagi mampu… Barang halal nambah pahala, barang haram nanbahi dosa…

MEREKA MELAKUKAN KOOR DENGAN LAGU DAN LIRIK YANG SAMA. TOKOH 1
MELANJUTKAN DENGAN MANTRA SENDIRI DI BUAT RAP.

Tokoh 1       : Halal haram apa bedanya, sepanjang duit sama fungsinya. Kenapa harus mikir caranya, kini yang penting banyak jumlahnya.

TOKOH 2 MENYAMBUNG DENGAN MANTRANYA SENDIRI YANG JAUH BERBEDA.

Tokoh 2       : Saya punya banyak doa lengkap dengan daftar harganya. Doa murah lama manjurnya doa mahal cepat sampainya. Marilah tuan, marilah nyonya tinggal pilih mana yang suka. Naik pangkat, murah rejeki, sampai gampang gaet istri muda.

TIBA – TIBA TERDENGAR BENTAKAN, MEREKA PADA KAKU, TEGANG, DAN TAKUT.

Kemukus       : (dengan lagak orang kesal) Cukup ! Cukup !!! (marah) Sudah saya duga sebelumnya. Saudara pasti masih terjebak tata cara ngemis yang konvensional ! (jalan memandangi para tokoh) Sejak jaman pra sejarah hingga sekarang, cara – cara itu pula yang dipakai. Saudara hanya mbebek saja pada adat – istiadat nenek moyang saudara. Padahal, sebagai pengemis, saudara dituntut untuk kreatif, untuk inovatif dan harus progresif menyakinkan klien ! Naa, jangankan untuk menyakinkan klien ! untuk menyakinkan saya saja agar saudara lolos seleksi di sekolah ini pun, saya sangat meragukan kemampuan saudara.

SEMUA MAKIN TEGANG.

Kemukus       : Saudara ! Saya ingin Tanya ! (menunjuk tokoh 1, yang ditunjuk maju dalam keadaan siaga) Ini psikotest ! Maka semakin saudara berbohong, semakin gampang tertebak kalau saudara memang menderita penyakit psikologis. Sekolah ini menolak calon pengemis yang rendah inteligensinya !

Tokoh 1       : Siap bu !

Kemukus       : Bagus ! Saudara sangat tegap dan sigap. Sangat berbeda dengan sikap saudara tadi saat memperagakan cara ngemis saudara. (sinis) Saudara hanya bermodal ngedumel ! Dan mantra – mantra semcam itu sudah tidak dibutuhkan para klien ! Mereka pusing mendengarnya.

Tokoh 1       : Tapi bu ! Dari awal tujuan kami adalah ngemis. Semakin sanggup memancing belas kasihan, tentu kami akan semakin berhasil sebagai pengemis.

Kemukus       : Itu kalau belas kasihan yang saudara maksudkan benar – benar otentik. Sebuah belas kasihan yang muncul dari lubuk sanubari klien ! Tapi keliru besar kalau saudara merasa sanggup memancing belas kasihan itu keluar lewat keadaan saudara yang begini tegap.

Tokoh 1       : Tegap kan sekarang bu. Lha tadi kan tidak !

Kemukus       : Naaa, saudara masih percaya pada acting ngemis tradisional. Pura – pura buta, pincang, buntung… Tapi begitu terima seperak dua perak langsung lari lintang pukang ! Ini mentalitas ! Mentalitas ! Terus terang sekolah ini menolak mentalitas amatiran semacam itu. Sekarang saudara ! (tokoh 2)



Tokoh 2       : Siap bu !

Kemukus       : Apa motivasi saudara jadi pengemis ?

Tokoh 2       : (berbicaranya seperti melantunkan mantra) Berawal dari rasa heran bu. Kemudian iri, kemudian saya sungguh terobsesi pada profesi ini bu…

Kemukus       : Saya ingin saudara memberi alasan bukan baca mantra !

Tokoh 2       : Begini bu (gugup) Hidup mereka tenteram sekali bu. Tidur mereka nyenyak sekali. Sekarang ini, siapa coba yang bisa tidur nyenyak kalau bukan mereka !

Kemukus       : Saudara ! Apa Saudara tidak melihat bahwa semua itu justru gambaran dari sikap putus asa ! Pengemis konvensional sama sekali orang yang bersemangat memupuk bakat besarnya untuk tidur ! Saudara jangan keliru ! Saudara jangan percaya dengan segala macam dongeng tentang tidur nyenyak kalau sarana pendukungnya tidak benar. Hanya tidur nyenyak yang dibangun oleh kerja keraslah yang secara sah harus dianggap tidur yang bermutu ! Kembali ketempat !!

TOKOH 2 MUNDUR TOKOH 3 MAJU. KEMUKUS KAGET DAN HERAN

Kemukus       : Saya belum merasa memanggil saudara !

TOKOH 3 KAGET. BERDIRINYA AGAK SEDIKIT TEGANG

Kemukus       : Apakah hanya karena saudara merasa punya nomer urut (marah) Setan apa yang membelenggu otak saudara. Hingga saudara begitu fanatik dengan nomer urut ! Siapa yang menjamin bahwa dalam hidup ini setelah nomer 2 harus nomer 3 ! Jawab !

Tokoh 3       : Bi… biasanya bu !

Kemukus       : Biasanya ! Biasanyaa ! Lagi – lagi jawaban klise itu pula yang kuduga akan keluar ! Saudara telah terjebak dengan sangat parah kebiasaan nenek moyang ! Saudara adalah bebek ! Saudara menunggu datangnya nasib semata, hanya dengan mengandalkan urut – urutan ! Sekarang saya Tanya pada saudara ! Siapa yang menjamin nomer urut itu akan sampai ke giliran saudara. Bagaimana kalau nomer urut itu tiba tapi jatah saudara sudah habis ! Ayo jawab !

TOKOH 3 SEMAKIN GEMETAR

Kemukus       : Apa saudara akan berdiri terus seperti patung mati ? Saudara tidak punya niat untuk merebut giliran. Mengubah angka 3 menjadi 2 atau 1 atau malah kembali ke 0 !

Tokoh 3       : Apa… apa boleh bu… Merubah giliran dari 3 menjadi 1. Apa itu… tidak… tidak ngeblong namanya !

Kemukus       : Siapa yang tidak boleh ! Revolusi itu apa artinya kalau tidak merebut giliran orang lain ! Hanya dengan revolusilah hidup ini bergairah. Revolusi pula yang telah menandai kemajuan – kemajuan sejarah ! Mundur !!

TOKOH 3 MUNDUR DENGAN SISA GEMETAR. KEMUKUS MENUNGGU  LAINNYA.

Kemukus       : Giliran selanjutnya !!

TOKOH – TOKOH TEGANG DAN SALING TOLEH MENEBEK SIAPA YANG DIMAKSUD.

Kemukus       : Giliran selanjutnyaaa….

TOKOH – TOKOH MASIH SALING PANDANG SATU SAMA LAINNYA.


Kemukus       : (menunjuk tokoh 4) Saudaraaa !

Tokoh 4       : (kaget dan maju dengan ketakutan) Si… siapa bu…?

Kemukus       : Tidak tahukah kalau sekarang giliran saudara !

Tokoh 4       : Saya… saya menunggu panggilan bu ! Saya khawatir dianggap lancang !

Kemukus       : Edan ! Sopan sekali calon pengemis yang satu ini. Ternyata tidak gampang mengajak manusia konvensional ini menjadi manusia yang avant grade ! Manusia masa depan ! Saudara…! Apa saudara tidak melihat betapa mulut saya sampai pecah – pecah karena terlalu lama bicara soal progresivitas ! Kenapa saudara menjadi pribadi yang loyo, yang hanya menunggu dan tidak merebut kesempatan !

Tokoh 4       : Tapi bu… tadi ada yang maju sebelum dipanggil, ternyata salah ! Dianggap lancang !

Kemukus       : Itu karena salah dia sendiri ! Kenapa dia mau saya katakana lancang. Saya mestinya kagum pada saudara ! (menunjuk tokoh 3, yang ditunjuk malah salah tingkah, senyam – senyum) Tapi itu terjadi sebelum saya tahu apa alasan saudara ini maju (tokoh 3 kaget) Lha… setelah tahu, ternyata dia goblok, saya benar – benar marah dan putus asa. (menunjuk tokoh 3) mestinya saudara tadi menolak saya katakan lancang. Saudara mestinya membalikkan tuduhan itu dengan mengatakan : Saya maju bukan karena lancang. Tapi demi merebut kesempatan, begituuu…

Tokoh 3       : Bagaimana kalau diulangi bu…

Kemukus       : Ha ha ha…  saudara mau melucu ya ? Saudara mau mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada masalah yang sulit bukan ? Terlambat ! Tapi catat : Bukan saudara yang membuat jadi gampang, tapi orang lain. Hingga kesimpulannya saudara tetap go…

Tokoh 3       : Goblok bu…

Kemukus       : Ha ha ha… bagus ! Kamu jujur ! Meski ini jelas kejujuran karena kepepet ! (ke tokoh 4) Sekarang saudara… Apa motivasi saudara jadi pengemis !

Tokoh 4       : Dari pada saya jawab apapun tetap hasilnya salah, maka saya lebih bertanya pada ibu, apa sebaiknya motivasi saya.

Kemukus       : (kaget) Edaan ! Saudara mendadak saja jadi begini diplomatis

Tokoh 4       : Belajar dari pengalaman bu. Setiap guru yang ngetes kecerdasan murid, tak pernah ada jawaban murid yang benar. Sepintar apapun otak si murid tersebut.

Kemukus       : Tapi soal motivasi itu soal yang mendasar, soal pribadi saudara.  Karena soal itulah saudara punya alasan untuk masuk sekolah ini. Saudara harus punya dasar. Punya alasan !

Tokoh 4       : Justru itu, saya datang kemari dalam rangka mencari dasar dan mencari alasan bu.

Kemukus       : Ha ha ha… luar biasa… luar biasa. Dengan cara begini semua jenis psiko test akan rontok. Oke saudara. Saudara saya nyatakan lulus paling awal. Bimbing teman – teman saudara untuk belajar kelompok, kemudian kita adakan test lanjutan. Oke ! Salam pengemis !

KEMUKUS KELUAR DENGAN RASA GEMBIRA DIBELAKANGNYA DI IKUTI PARA
TOKOH – TOKOH SAMBIL MENARI RIANG GEMBIRA.

 




BABAK 2


TERDENGAR MUSIK SYAHDU MENGIRINGI NY LEGOWO (IBU) TERMANGU SENDIRI.

Ibu            : Rasa – rasanya ingin sekali aku melengkapi baktiku sebagai orang tua. Resep suatu kebahagian, ternyata tak Cuma ketika dilayani. Tapi juga saat melayani ! Sekarang saatnya saya berbuat sesuatu untuk anakku. Sesuatu yang dia tak pernah sekalipun memintanya.

NY LEGOWO TETAP MENERAWANG SENDIRI MUNCUL KEMUKUS DAN RENGGANIS
MEMBUYARKAN LAMUNAN NY. LEGOWO.

Ibu            : Kemukus anakku yang cantik, Rengganis cucuku yang aku sayangi. Selamat datang. Salam sejahtera untuk kalian berdua.

Kemukus       : Tunggu ibu ! Tunggu ! Dimana – mana, anaklah yang harus lebih dulu memberi salam pada orang tuanya.

Ibu            : Ha.. ha.. ha… bau kehormatan langsung merebak begitu kau masuk di ruangan ini anakku. Padahal dimana ada kehormatan, disitu pula letaknya salam. (menunduk)

Kemukus       : Tunggu doong ! Ibu jangan memaksa saya merasa lebih terhormat di banding orang tua saya sendiri. Saya bisa kuwalat !

Ibu            : Kenapa ibu harus memaksanya kalau kehormatan itu telah dengan sendirinya memancing salam.

Kemukus       : Astagaaa, ibu… Eee… Mari anakku… mari kita berlutut di hadapan orang tua kita.

KEMUKUS SUJUD. NAMUN RENGGANIS MEMPERLIHATKAN KECONGKAANNYA
SEHINGGA NY. LEGOWO TERSINGGUNG.

Ibu            : Hentikan anakku ! Hentikan ! (sinis) Tanpa menghormatpun, tak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Begitu kamu lahir jebrol, Kamu justru memberaki ibumu ketimbang menghormat. Tapi betapa karena berakmu itu ibumu malah mati – matian mencintaimu, demi menahan nyawamu agar betah bertahan, aku rela berbuat apa saja nak : Termasuk ngemis !

Kemukus       : Selama ini, rasa - rasanya Cuma ibu melulu yang berusaha membuat saya bahagia. Saya belum melakukan apa – apa untuk ibu.

Ibu            : Anakku. Kebahagiaanku, justru ketika kau tak berbuat apa – apa !

Kemukus       : (tersinggung) Ibu ! ibu menyinggung perasaan saya.

Ibu            : (balik tersinggung, keras) Apa saya tidak super tersinggung !

Kemukus       : Bagaimana mungkin, niat mencintai malah membuat ibu tersinggung !

Ibu            : Bagaimana mungkin kau bisa mengatasnamakan cinta kalau yang kau lakukan justru sesuatu yang sangat kutakutkan.

Kemukus       : (senewen lalu menangis) Ibu… Ibu masih merasa diri ibu sebagai pengemis.

Ibu            : (tegas) Apa kamu sudah tidak merasa dirimu sebagai anak pengemis?

Kemukus       : Saya masih anak ibu ! Seperti yang dulu !

Ibu            : Dan saya tetap pengemis ! Seperti yang dulu !

Kemukus       : (menangis) Tuhan… beri saya kekuatan untuk meyakinkan orang tua ku bahwa segalanya telah berubah !

Ibu            : Ya… Ya ! Segalanya memang telah berubah menjadi lebih mengerikan.

Kemukus       : Ibu menganggap perubahan status ini mengerikan ? Ibu lebih suka dengan dunia ibu yang lama sebagai pengemis jalanan ? Ooh… Jangan – jangan… Jangan – jangan ibu sedang dilanda post power syndrom ! (melangkah menjauh) Oalah bu… bu… Post power syndrom itu kan kalau dulu ibu seorang pejabat ! Lha Orang ngemis saja kok di power syndromi ! Nyebut bu. Nyebut…!!!

Ibu            : Kemukus, anakku. Jangan dikira aku tidak malu jadi pengemis. Sangat malu. Sangat amat malu sekali. Tapi pada puncak rasa malu itulah aku malah jadi tidak malu sama sekali. Aku memang kagum dengan bakatmu yang luar biasa itu, kamu sanggup merubah penderitaan orang tuamu menjadi sebuah lahan kehormatan yang tak pernah aku sangka – sangka. Dunia ngemis – mengemis telah kamu sentuh menjadi sebuah tambang emas. Hingga akhirnya. Lembaga pusat pendidikan pengemismu kini telah tumbuh menjadi sebuah Holding Company. Dan kini statusmu sudah melampaui raja midas. Jadi kesimpulannya, hormat – menghormat itu bukan soal yang mendesak benar. (meninggi) Lebih – lebih ketika tradisi hormat secara resmi baru – baru ini saja diberlakukan. Tegasnya setelah kau menikah, atau lebih tegasnya lagi setelah kau merasa sukses !***

Kemukus       : Ibu… (gugup) pasti ibu telah makan dengan menu yang salah ! Hati – hati ibu… menu yang salah tidak Cuma akan meningkatkan kadar gula dan kolesterol. Tapi bisa juga mengacaukan kejernihan pikir, serangan jantung, gangguan kehamilan dan janin.

Ibu            : Tidak anakku… aku tak pernah berani mengkonsumsi makanan yang aku sendiri tidak suka. Apalagi akhir – akhir ini penyakit rematikku sering kali kambuh !

Rengganis      : (menyela sinis) Mami… Benarkah kutukan itu ada ?

Ibu            : (kaget) Aku mendengar kata – kata mami disarang pengemis ini. Luar biasa, panggilan yang cuma berlaku untuk orang – orang kaya dan orang yang baru berangkat kaya itu, ternyata mulai dipakai kaum pengemis.

Rengganis      : Saya bertanya lagi pada mami. Kalau saja kutukan itu terucapkan, benarkah hidup kita taruhannya ? ( kemukus gelisah) Tenang mam… Rileks ! Menjadi orang miskin yang sukses memang jauh lebih mudah ketimbang menyakinkan orang lain bahwa kita benar – benar telah sukses Mam ! Bukan kita yang tak siap sukses, tapi justru orang – orang itu. Mereka selalu merong – rong kita dengan sebutan OKB ! Mereka menganggap semua tingkah laku kita tak lebih dari sekedar dagelan. Sesungguhnya siapa Mam.., siapa yang sedang jadi badut dalam hal ini. Kita atau mereka ?

Ibu            : Gusti… Ada badut tega – teganya mentertawakan badut ! Kenapa jarang ada badut yang sadar kalau dirinya badut !

Rengganis      : Heeh, Mami tidak juga menjawab pertanyaanku.

Kemukus       : Lha bagaimana mau menjawab, sayang. Dari tadi kau ngomong melulu !

Ibu            : Astagaaa ! Sayang ha.. ha.. ha…

Rengganis      : Saya melihat sinar mata Mami mulai ragu – ragu. Mami harus kuat, jangan jadi ragu – ragu gara – gara OKB !

Kemukus       : Sayang…! Jangan salah paham dooong, mau dikatakan OKB, ABG, atau EBIET G ADE siapa yang peduli. Aku ragu – ragu karena beliau orang tua kita !

Rengganis      : Berarti Mami masih memperhitungkan kutukannya ?



Kemukus       : bu… Bukan ! Lha kutuk mengutuk itu hanya berlaku pada jaman sahibul hikayat dulu, ketika jaman masih steril. Lha jaman sekarang kutukan apa lagi yang bisa dipercaya. Bagaimana mungkin sama – sama pihak terkutuk bisa saling kutuk.

Rengganis      : Kalau begitu tunggu apa lagi, segera saja kirim dia ke panti jompo !

Kemukus       : Ke panti jompo ? Tapi beliau orang tuaku, eyangmu sayang. Masak kita korbankan ?

Rengganis      : Mam, kalau mami sudah memilih sukses, jangan berpikir romantis soal korban !

Kemukus       : Lhah, soal korban itu kan bukan barang baru bagi kita. Tapi begitu korban adalah orang tua kita… masalahnya jadi tidak sederhana, sayang !

Ibu            : Ternyata aku keliru menganggap anak adalah tabungan hari tua. Untuk itu orang tua jaman sekarang harus meninjau ulang kebanggaannya terhadap anak – anaknya. Karena orang tua sekarang tidak bisa nunut urip secara gratis pada anak – anaknya, Hanya karena alasan dia pernah melahirkan, membesarkannya. Heh… ternyata tidak ada yang gratis di dunia, bahkan sampai kita merasa punya tabungan anak sekalipun.

Rengganis      : Mam… Kenapa dalam membuat daftar korban Mami jadi begini lemah. Mami pikir saya tidak mengorbankan masa depan saya, masa remaja saya telah saya sebratkan begitu saja. Jangan dikira saya  mounster yang tidak lagi memiliki rasa, saya masih manusia Mam… Tapi apa yang aku lihat sekarang ini adalah pemandangan yang akan mengacaukan cita – cita yang telah kita bangun bersama.

Kemukus       : Wouu… bernafsu sekali kata – katamu sayang ?

Rengganis      : Terpaksa.

Kemukus       : Berhubung cara meyakinkanmu sudah sedemikian bernafsu, rugi to kalau aku tidak terpengaruh. Oke, ku setujui kata – katamu. Korban adalah korban, soal klasifikasi korban adalah persoalan kesekian.

Rengganis      : Buktikan Mam…!

Kemukus       : Aku makin sadar akan peran seorang anak dalam keluarga. Sungguh ! Makin membuat ketersesatan ini kian sempurna… Mari… mari kita singkirkan kerikil dalam perasaan. Karena perasaan adalah hambatan bagi dunia baru !

Ibu            : Oh… tidak gusti… tidak… jangan biarkan aku mengutuk anakku sendiri (merasa ada yang keluar dari mulutnya) Tahan mulutku gusti… Oh… Kutukan itu telah mengalir begitu cepatnya… Ah… Dia sudah sampai ke ujung lidah… Tahanlah gusti… Tahanlah…!

Rengganis      : Tahan saja…! Ketimbang sudah keluar tapi tidak mempan. Lha Wong mau ngutuk saja kok dasarnya like and dislike.

Ibu            : Terima kasih gusti… kutukan itu melorot lagi ke kerongkongan… Jangan biarkan dia naik… Jangan biarkan dia naik lagi gusti…!

Rengganis      : (SINIS) Mam… Barang kali korban itu tidak Cuma hanya satu, bila perlu tambah beberapa lagi !

Ibu            : (meradang) Ooh… demi revolusi yang telah membuat diriku menjanda berabad – abad jiwa. Dengar…! Siapapun boleh mendengarnya. Aku memang malu jadi pengemis. Tapi ternyata aku harus lebih malu melihat darah biruku tidak menetes pada keturunanku. Darah sebagai pengemis sejati ! Gusti… Ternyata kesejatian itu tak bisa secara otomatis menurun


begitu saja. Karena ternyata sebuah perkawinan bisa mengacaukan darah. Darahku bercampur dengan darah orang lain, dan akhirnya darah biru pengemisku tercemar. Meskipun orang itu adalah… Suamiku sendiri ! Gusti… ternyata aku lebih merasa jadi manusia ketika aku masih berada dijalanan… Aku akan kembali padanya… Aku akan kembali ke jalan… Sekarang… Ya sekarang… Selamat tinggal semuanya… (lari keluar)

BABAK 3


TERDENGAR MUSIK PENGIRING TOKOH – TOKOH MASUK. MEREKA TELAH GANTI
PAKAIAN.

Tokoh 4       : Naa… cocok saudara. Cocok. Ya begini ini kostum pengemis masa depan, trendy (semua pada tertawa) Sekarang kita yakinkan pada Ibu Kemukus yang mulia, bahwa kita telah siap menjadi pengemis masa depan !

SEMUA PADA GEMBIRA

Tokoh 4       : Nah, sekarang testing intern. Dengan rendah hati biarlah saya yang paling cerdas diantara kalian ini menjadi testernya. Sekarang giliran yang pertama !
SEMUA PADA DIAM, BAHKAN SALING PANDANG.

Tokoh 4       : (menunjuk tokoh 1) Wee… kamu goblog !

Tokoh 1       : Saya saudara ?

Tokoh 4       :  Aduh, gimana sih ! Lha… apa gunanya Ibu Kemukus bilang progresif…
progresif dan progresif kalau ternyata belum nyantel di kuping saudara. Lha, testing ulangan saja masih goblog begini, bagaimana mau minta lulus.

Tokoh 1       : (sombong) Eee… Saudara jangan salah paham !

Tokoh 4       : Edaan, mbantah !

Tokoh 1       : Justru saudara yang terancam tidak lulus ! Saudara masih menjadi pengemis konvensional ! Calon pengemis masa depan mengartikan progresif justru ketika dia berani mundur, bukan maju.

Tokoh 4       : Ha ha ha baru dikuliahi sebentar saudara ini telah mendapat kecerdasan ekstra. Meski kecerdasan untuk tersesat.

Tokoh 1       : (tegas) Tidak saudara. Saudara salah sangka. Progresif yang berarti maju adalah kuno. Progresif yang sejati justru ketika kita sanggup menahan diri. Saya adalah satu – satunya pengemis yang akan menerapkan sikap sinis pada pemberi sedekah !

SEMUA RAMAI, MENGGERUTU TANDA TAK SETUJU.

Tokoh 1       : Makin besar sedekahnya, saya justru akan makin sinis !

SEMUA TOKOH PADA GADUH. MENCEMOOH.

Tokoh 1       : Na… too ! Kalian to yang akhirnya konvensional. Saudara tidak berani menentang arus sih !

Tokoh 4       : Tunggu saudara… tunggu ! Kalau buat teori itu yang masuk akal too ! Apapun bentuk teorinya, esensi ngemis itu ya demi sedekah itu sendiri. Boleh saudara sinis pada klien, boleh ! Tapi itu demi meningkatkan omset. Kalau sudah tinggi omsetnya masih tetap sinis, ya nggak jadi dikasih sedekah too ! Goblog gitu kok !

Tokoh 1       : (ngoto) Nah, toh. Saudara nanti yang terancam tidak lulus. Ngemis masa
depan itu orientasinya bukan sedekah. Lah kalau masih terima sedekah balik lagi jadi tradisional too.

Tokoh 4       : (marah) Lah lalu hasilnya ?

Tokoh 1       : Lhoo ya tidak mengharapkan hasil to yaa. Tapi yang penting kita kan bisa ngemis sambil sinis. Saya tidak mau ngemis dengan cara yang ngemis – ngemis.

Tokoh 4       : Lha terus makan apa ! Mati lho kamu !

Tokoh 1       : Memang ! Tapikan mati dengan sombong !

Tokoh 4       : Ha ha ha… Oke, oke ! Minimal teori saudara sudah aneh mesti konyol. Ini sudah lumayan. Giliran berikutnya sekarang.

Tokoh 2       : Saya saudara !

Tokoh 4       : Apa konsep ngemis saudara.

Tokoh 2       : Eeng… konsep yang dikembangkan saudara saya tadi agaknya tidak masuk akal saudara. Kalau  niat dia agar dia bisa mati dengan sombong, ya langsung mati saja. Kenapa harus jadi pengemis segala !

Tokoh 4       : Trus !

Tokoh 2       : Saya dengan rendah hati masih tetap mengaku sebagai pengemis. Bedanya saya berusaha mendekatinya dengan sikap yang lebih artistic.

Tokoh 4       : Wee… sebuah gagasan baru. Pengemis artistic. Konkretnya saudara ?

Tokoh 2       : Lihat disain tambalan di pakaian saya. Tambalan ini mengilhami saya. Dan ini sebetulnya kapling iklan buat investor !

Tokoh 4       : Edaaan ! Trus ! Maksudnya kepiye itu… piye ?

Tokoh 2       : Selama ini, pengemis tradisional itu selalu membiarkan tambalan bajunya sebagai tambalan. Sekarang kita harus merubahnya !

Tokoh 4       : Merubahnya ! Caranya saudara, caranya ha ha ha !

Tokoh 2       : Satu tambalan berarti satu logo sponsor. Semakin banyak tambalan berarti kita pengemis yang sukses meraup iklan !

Tokoh 4       : Ha ha ha… fantastis ! Pengemis jenius ! Oke… oke ! Kalau dulu semakin susah, sekarang mbalik jadi gemah ripah, toto tentrem kerto raharjo ha ha ha… baik ! Kita jadikan diri kita proposal berjalan. Sekarang giliran yang paling akhir ! Saudara !

TOKOH TIGA MAJU

Tokoh 4       : Siap dengan konsep ?

Tokoh 3       : Seorang yang kreatif tidak buru – buru berkonsep, saudara !

Tokoh 4       : Jangan waton aneh to…

Tokoh 3       : Biarkan para pendahulu merumuskan konsepnya. Beramai – ramai melempar konsep. Kita tinggal pasang kuping dan… membajaknya…

Tokoh 4       : Ha ha ha… bagus – bagus… ! Sorot mata saudara memang sangat identik dengan pembajak.

Tokoh 3       : Terima kasih.

Tokoh 4       : Tapi jangan dikira pembajak itu tidak penting. Semakin banyak pembajak dilahirkan para penemu juga akan semakin banyak bermunculan. Pembajak adalah katalisator ! Jadi semua ini ada fungsinya, tak usah di kutuk, apalagi dimusuhi. Truss… kokretnya !

Tokoh 3       : Kembali ke soal logo sponsor itu, saudara. Gagasan kawan kita tadi, sangat cerdas, namun masih sangat dasar sifatnya.

Tokoh 4       : Truss maksudmu !

Tokoh 3       : Sebagai mana sifat kaum pembajak, ide harus dijual secara sophisticated. Lebih meyakinkan klien, begitulah.

Tokoh 4       : Iyaa… tapi piyee !

Tokoh 3       : Tentang tambalan ini ya, saudara. Ini adalah gambaran konkret bagaimana para pengemis itu nanti punya daerah pemasarannya sendiri – sendiri.

Tokoh 4       : Woo… pangsa pasarrr !

Tokoh 3       : Naa… itu istilahnya, saudara. Soal segmentasi. Karena yang namanya klien itukan segmented saudara.

Tokoh 4       : Wuaa bahasa asing he… he… pengemis intelek ! Truss ?

Tokoh 3       : Artinya, pendekatan pemasaran kita benar – benar harus dengan strata ekonomi pasar Saudara. Bagi yang kadar bakatnya rendah seperti saudara kita ini (merangkul tokoh 1) Cukup melayani iklan eceran. Persis seperti wajah tambalannya itu saudara.

Tokoh 4       : Ha.. ha.. ha.. seperti iklan bengkel las, kenteng magic, pabrik garam dsb… dsb itu ya ? Ha… ha… ha… bagus, truss !

Tokoh 3       : Makin cerdas pengemisnya, makin selektif menerima iklan. Contohnya saya dan teman kita yang satu ini, saudara (merangkul tokoh 2) cukup dua atau tiga tambalan, karena kami memang Cuma butuh iklan yang bergengsi.

Tokoh 4       : Fantastis. Lha kalau kecerdasannya itu diatas kalian, seperti saya misalnya.

Tokoh 3       : Persis seperti kostum saudara. Tambalan satu tapi besaarrr…

Tokoh 4       : Artinya ?

Tokoh 3       : Itu berarti saudara Cuma menerima sponsor tunggal.

Tokoh 4       : Yaak ! Saya puas melihat perkembangan kecerdasan saudara semua. Kita minta ujian pada ibu kemukus. Kita tawarkan segenap proposal yang spektakuler ini.

TOKOH – TOKOH MENARI BERGEMBIRA. MUNCUL KEMUKUS DAN RENGGANIS.

Kemukus       : Lihatlah sayang… inilah generasi dunia baru.  Pengemis masa depan !

Tokoh 4       : Begini bu… non… kami disini dalam rangka ingin menempuh ujian akhir… Kalau perlu sekaligus pengujian skripsi.

TOKOH – TOKOH PADA CENGENGESAN.

Kemukus       : Oke… oke. Kami berdua akan bertindak sebagai dosen penguji. Silahkan anakku… sekarang saatnya giliranmu untuk mengujinya !

Rengganis      : Saudara nomer 1 (naik level) Apa judul skripsi saudara ?

Tokoh 1       : Setelah meneliti secara seksama fenomena kepengemisan di negri ini, saya menyiapkan judul : Ngemis, antara Mentalitas dan Kebudayaan !

SEMUA PADA CENGENGESAN.

Kemukus       : Waah… gagah sekali saudara he.. he.. he…

Rengganis      : (tegas) Saudara ! Saya tidak ingin skripsi saudara hanya terjebak gagah di judul, seperti judul di seminar – seminar. Ini riset soal kehidupan. Teori saudara harus konkret !

Tokoh 1       : Konkret non !

Rengganis      : Tapi judul yang saudara pilih memberi kesan mengangbang. Di mana letak pengemis di antara mentalitas dan kebudayaan seperti yang saudara maksudkan ?

TOKOH – TOKOH MULAI RAMAI MEMBICARAKANNYA.

Tokoh 1       : Begini non. Ngemis itu adalah persoalan mental non. Tapi bisa juga persoalan kebudayaan. Artinya mental yang dibudidayakan dan budaya yang dimentalkan. Jadi mentalitas itu adalah kebudayaan dan kebudayaan bisa juga adalah mentalitas. Sebab non, apakah gunanya mental tanpa kebudayaan dan kebudayaan tanpa mental. Bagi saya hal ini harus mengalami transformasi ide. Yang transformasi itu akan menimbulkan dampak kontaminasi skripsi.

TOKOH – TOKOH TEPUK TANGAN RIUH.

Tokoh 2       : Ha… ha… ha… ruwet… ruwet…

Tokoh 1       : (kian semangat) Bayangkan saudara – saudara… kalau saja dunia pengemis ini telah dibekukan dalam status quo, maka yang quo itu pasti akan menjadi quo vadis. Lha bayangkan kalau sudah timbul gejolak cultural semacam ini. Pasti semua yang cultural itu akan bergejolak dong !

SEMUA TOKOH MEMBERIKAN REAKSI.

Kemukus       : Lulussss !

Rengganis      : Mam ! Calon seperti apa yang mami bawa kemari. Dia golongan manusia yang suka berlagak tanpa ngerti arti bicaranya sendiri.

Kemukus       : Sudah to sayang… sudah ! Jangan ketat – ketat to. Kendor sedikitlaah. Siapa tahu skripsi itu memang jiplakan. Kan ya repot orang njiplak harus pinter sungguhan. Sudah… kamu kembali ketempat ! Ganti giliran berikutnya…!!!

TOKOH 2 MAJU

Kemukus       : Apa judul skripsimu…??

Tokoh 2       : Judul saya sederhana bu. Judul ini saya pilih setekah saya melakukan penelitian intensif pada dunia pengemis dan mengalaminya sendiri selama 2 tahun. Judul skripsi saya adalah… Ngemis, sebuah alternatif bagi pengentasan desa tertinggal dan pemasok sumber daya non… mi… gas…

Kemukus       : Weee… seremm… sereemm. Lulusss… ijazahnya mau diambil sekalian ?

Tokoh 2       : Titip dulu saja bu… Terima kasih.

Rengganis      : Mam, dia belum sempat ditanya bagaimana judul itu di jabarkan secara konkret !

Kemukus       : Ayoolah sayang… sudah too. Bayangkan saja, dia kan memberi gambaran yang jelas mengenai pemecahan kesulitan di negri ini. Kita dukung too… didukung… Ayo selanjutnya !


TOKOH 3 MAJU

Rengganis      : Program apa yang saudara tawarkan ?

Tokoh 3       : Kalau saya lebih pada pembenahan kedalam non. Karena dunia kami ini
belum akan menjadi alternatif sebelum sumber dayanya sendiri solid. Skripsi saya nanti Cuma berisi data yang memuat profil seratus tokoh pengemis sukses lengkap dengan alamat, nomer telepon, berapa perusahaannya, berapa sahamnya, berapa simpanannya serta filsafat hidupnya. Buku ini nanti akan menjadi acuan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya yang akan mengikuti jejak pendahulunya.
Kemukus       : Luluuusss… ha… ha… ha… langsung lulus ! Ayo sekarang yang terakhir !

RENGGANIS SEWOT, MASUK TOKOH 4

Kemukus       : Skripsi saudara ?

Tokoh 4       : Saya pikir, saya sudah tidak perlu membuat skripsi lagi bu.

Kemukus       : Edaannn… Lancang ! Umpak – umpakan.

Tokoh 4       : Maaf ibu Kemukus yang terhormat. Saya lihat, ibu telah menyetujui semua judul skripsi rekan – rekan saya.

Kemukus       : Bener !

Tokoh 4       : Perlu ibu ketahui, bahwa ketiga gagasan yang cemerlang tadi adalah hasil pikiran saya. Artinya, begitu otak mereka bertiga bila digabungkan, baru bisa menyamai kadar gagasan saya.

Kemukus       : Weee… sembronooo… ha.. ha.. ha.. tapi baik : Lembaga ini membutuhkan orang congkak sepertimu ! Konon kesombongan disayang oleh nasib ! Oke. Lulusss !

TOKOH – TOKOH PADA GEMBIRA, KEMUKUS MENEMPATKAN DIRI DI LEVEL LAIN.

Kemukus       : Saya sudah plong saudara. Sudah blong. Dengan sumber daya seperti kalian, kita akan membangun sebuah dunia baru. Dunia dimana kita yang menjadi arsiteknya. Hanya satu kelengkapan dari saya yang akan melengkapi gagasan saudara. Yaitu soal kostum ! (tokoh – tokoh pada bereaksi tegang) Saya bangga ! Saudara telah melakukan terobosan yang sangat kreatif dalam hal kostum. Tapi ada cacat dasar yang saudara lupakan, yakni soal tambalan. Apapun tawaran kemewahan pakaian saudara, semasa tambalan itu ada, maka saudara tetap saja konvensional ! Jadi sempurnakan gagasan itu dengan membuang semua cap yang selama ini menodai dunia pengemis. Buang semua tambalan. Kostum kita saat ini adalah jas dan dasi ! (Kemukus memberikan kostum pada tokoh – tokoh) Nah, sekarang dengarkan ! Kita sedang menyiapkan rancangan dunia baru. Dunia yang butuh citra, butuh image. Tapi kami telah kehilangan seorang pesakitan yang telah lari dari rumahku. Pesakitan itu adalah ibuku sendiri, dia adalah skrup yang telah lepas dari fungsinya, kalau sampai dia turun ke jalan dan melakukan praktek liar dia, akan mencermarkan nama baik perusahaan ini. Brangus pesakitan itu. Ini perintah !

BABAK 4


SEMUA PADA KAGET, NAMUN TETAP SAJA MENURUTI PERINTAH. TOKOH –
TOKOH KELUAR DI IKUTI KEMUKUS DAN RENGGANIS DI TEMPAT LAIN
TERDENGAR SUARA NYANYIAN SEDIH.

Ibu            : (menangis) Gusti… beri saya kuat, gusti. Beri saya sabar menghadapi perbedaan pendapat yang telah menjadi perbedaan ideologi ini. Jangan duh gusti… jangan sampai hambamu ini gagal membendung rasa marah. Karena kemarahan orang tua adalah kemarahanmu juga. Dan jangan sampai mulutku gagal mengendalikan kutuk yang telah merambat hampir ke ujung lidah ini. Biarlah hak mengutuk yang engkau berikan ini menjadi tabungan hari terakhirku, yang tidak akan kucairkan kalau tidak benar – benar kepepet. (terkejut) Berubah… semuanya telah berubah. Di mana – mana telah terpasang papan larangan. Di larang ngemis ! (mengendap – endap) … di traffic light, dijalan – jalan protocol… di semua pos – pos basah telah ditutup dan dijaga. Gusti… dimana… dimana semua relasiku yang dulu. (naik level) Duuh… gusti… ternyata mereka telah disingkirkan dan dilenyapkan. Ooh… kota ini agaknya sedang bersemangat menjadi peserta lomba kebersihan antar propinsi, mereka menukar manusia dengan sebuah piala. Ooo… tidak kawan – kawanku, tidak. Kita adalah bagian dari hidup dan kehidupan mereka. Kita tidak bisa lenyap dan dilenyapkan begitu saja. Ternyata kota ini sedang merias dirinya menjadi badut. Haahh, tebal sekali gincunya ha.. ha.. ha… Barang siapa tebal gincunya maka sudah pasti tebal pula boroknya. Ha.. ha.. ha… (asyik dengan diri sendiri)

TIBA – TIBA ROMBONGAN TOKOH – TOKOH MASUK

Tokoh 4       : Kawan – kawan, coba lihat ! Itu orang yang sedang kita cari. Kita tanyai saja. (menedekati) Maaf bu. Nuwun sewuuu… Apakah benar ibu ini adalah ibundanya ibu Kemukus, yang menghebohkan itu…

Ibu            : He.. he.. he… betul nak, betul. Walau semestinya aku malu disebut sebagai ibunya. Masak, ada pengemis beranak pengusaha. Ini keterlaluan too.

TOKOH – TOKOH BINGUNG PADA SALAH TINGKAH.

Tokoh 4       : Gimana ini saudara – saudara. Piye too kii. Tak tahunya kita harus menghadapi konsep sukses yang demikian dramatis.

Tokoh 1       : Benar, sukses ya sukses… tapi kalau sampai harus minta tumbal orang tua sendiri kan mengerikan. Tumbal kan cukup orang lain.

Tokoh 2       : Saya ini gigih meraih sukses juga karena dorongan orang tua, terutama mertua saya je. Lha kalau sudah sukses tidak bisa pamer mertua apa artinya…

Tokoh 3       : Begini saudara – saudara. (lagaknya berdakwah) Saya punya ide, saya punya ide. Tata cara meraih sukses memang harus progresif. Harus edan – edanan. Tapi kalau sudah sukses harus kembali ke konvensional. Adalah bohong kalau manusia itu bukan mahluk primitif. Jujur saja, dorongan sukses itu siapa coba yang berperan. Adalah anak, istri, mertua, orang tua, pacar dan kampung halaman. Kalau mereka semua dibuang, kapan kita bisa jual tampang. Kalian akan menderita kalau sudah sukses tapi tidak lagi punya kampung halaman. Kalian tidak bisa lagi mudik. Gawat ! Ketika manusia tidak lagi bisa mudik adalah bencana. Tidak, saya tegas – tegas menolak sukses kalau tak ada lagi yang ditugasi untuk kagum pada kesuksessan !

Ibu            : Ha.. ha.. ha… aku terharu nak. aku terharu. Kalian ini semua masih menyisakan hati nurani meski tetap saja bajingan. Ayo tangkaplah. Jalankan tugasmu dengan baik. (tokoh – tokoh pada melongo) Ayolah.
Aku memang bersimpati pada kalian. Tapi bukan berarti aku minta belas kasihan. Karena betapapun rasa simpatiku tetap tak bisa menghapus kenyataan kalau kalian ini adalah bandit !

Tokoh 4       : Maaf bu, maaf. Ibu juga jangan salah sangka. Kalau kami menolak menangkap ibu bukan berarti kami kasihan sama ibu. Tidak bu… tidak. Kami menolak karena kami sedang bersimpati pada nasib kami sendiri.

Tokoh 1       : Ya bu. Pada nasib orang tua kami, mertua kami. Kami menolak sukses kalau harus menghilangkan mereka.

Ibu            : He.. he.. he.. boleh ! boleh ! Itu sepanjang orang tua kalian, mertua kalian adalah skrup dari kesuksessan itu sendiri. Tapi sepanjang mereka kalian tempatkan sebagai manusia konvensional ha.. ha.. ha.. jangan mimpi. Kalian kepalang terikat doktrin !

Tokoh 2       : Kalau begitu ! Saya menolak sukses edan semacam ini. Saya Stresss… saya streesss.

Tokoh 3       : Tunggu saudara… jangan panik. Ini godaan keyakinan. Tapi jangan enak saja mbalik ke jaman dulu. Miskin stress, kaya juga stress. Mendingan pilih yang terakhir saja. Kita jangan stress sambil miskin ! Rugi dua kali !

Ibu            : Ha.. ha.. ha… ternyata sestres – sestresnya saya, masih lebih leluasa menikmati stress orang lain. Ayolah nak, tangkap aku ! Biarkan anakku yang hebat itu membuktikan teori suksesnya. Ayolah ! Kalian juga termasak generasi pemburu sukses… ayolah ! Kalian juga termasuk generasi hunter itu bukan ? (Ibu mendekati para tokoh, namun para tokoh malah lari kebingungan) Piye to iki ! Kalian mau nangkap aku apa mau bingung !

TOKOH – TOKOH PADA BINGUNG, AKHIRNYA LARI KELUAR DAN DIIKUTI IBU.

Kemukus       : Sayang ! Semua teori yang telah kita pelajari ternyata terbukti. Saya betul – betul plong sekarang. Ketika rumus menghilangkan perasaan ini saya praktekan, enteng kepala saya. Ringan. Malah saya seperti tidak berkepala lagi.

Rengganis      : Godaan mami saat ini Cuma tinggal satu yaitu kalau bayangan tentang hubungan antara orang tua dan anak muncul kembali.

Kemukus       : Oohh… jangan kuatir sayang. Jangan kuatir ! Saat ini, aku betul – betul telah murtad dengan sempurna. Apalagi mengingat perkembangan usaha ini telah mencatat rekor yang fantastis. Dalam waktu singkat akademi kita sudah menjalin network. Ha.. ha.. ha… sungguh ternyata hidup ini penuh dengan humor. Hanya dengan ngemis kita telah sanggup menguasai hampir tiga perempat pos ekonomi negri ini. Kita sudah cukup modal untuk merubah cokro manggilingan alias wolak – waliking jaman. Sekarang ganti kita yang memaksa orang lain untuk ngemis di depan pintu rumah kita. Ha.. ha.. ha… ini hiburan sayang… Dan kita telah memiliki tim yang solid, para staf kita adalah tenaga ahli yang cemerlang intelegensinya !

Rengganis      : Karena factor intelegensi itu mam… meraka bisa menjadi sumber maslah !

Kemukus       : Lha khok !

Rengganis      : Apa dikira gampang punya staf yang pinter ! Itu sama saja seperti memelihara anak macan !

Kemukus       : Lha ! Segalak – galaknya macan, dia akan menjadi jinak dan manis kalau kita pelihara dari kecil.

Rengganis      : Siapa bilang mam ! Kalau ada macan bersikap manis itu bukan karena ia benar – benar berubah. Hanya ada dua jalan untuk membuat macan menjadi jinak ! Membuatnya ompong atau membiarkannya selalu dalam keadaan kenyang. Sedikit saja dia lapar, nalurinya akan kembali seperti kodratnya. Ia akan lebih berpikir soal perut ketimbang patuh pada tuannya.

Kemukus       : Woow… sebuah riset biologi baru ya ! Jadi ?

Rengganis      : Kita harus membuatnya ompong !

Kemukus       : Ooo… itu tidak mungkin too, sayang. Ompong mereka, ompong pula kita.


Rengganis      : Kalau begitu, buat mereka kenyang ! Dan itu mahal ongkosnya mam.



Kemukus       : (angkuh) Seberapa mahalnya sih ?

Rengganis      : Seharga perusahaan baru, satu bakat, satu badan usaha, empat bakat berarti empat badan usaha !

Kemukus       : Fantastis ! (termangu) Tapi uang kita akan terkuras habis, hanya untuk memanjakan mereka.

Rengganis      : Manajemen Modern itu, membiarkan orang lain jadi pemimpin, tapi masih tetap jadi anak buah. Dan biarkan mereka bekerja keras mencari laba, akhirnya toh kita yang mengaturnya.

Kemukus       : Jenius ! Hebat ! Dahsyat sekali Cleopatraku !

Rengganis      : Tapi tunggu dulu mam ! Mereka harus menemukan dulu pesakitan itu !

MUSIK MERAYAP PERLAHAN, IBU MASUK DENGAN PARA TOKOH BERIRINGAN.

Ibu            : (dari dalam) Aku datang…

Kemukus       : Tepat pada waktunya ! Staf ku yang canggih…

MEREKA MASUK DENGAN MEMAKAI KOSTUM PENGEMIS, KEMUKUS KAGET.

Kemukus       : Demi Yupiter, ada barang antik lewat !

Rengganis      : Mereka pelarian dan para staf, mam…

Tokoh 1       : (membaca mantra seperti awalnya masuk)

Kemukus       : Lhoh ! Lha kok malih ke jaman dulu lagi. Kok kere lagi ?

Tokoh 2       : (membaca mantra seperti awalnya masuk)

Kemukus       : Ini juga ikut – ikutan mbalik lagi, jadi kere lagi.  Setan apa yang membelenggu kepalanya ?

Tokoh 3       : (membaca mantra seperti awalnya masuk)

Kemukus       : Bergajul ini juga mbalik jadi manusia primitif. (mendekati tokoh 4) Oh… tidak… kamu stafku yang paling cemerlang… paling cerdas… ayo… cukup… kalian pasti sedang gojeg to, sedang bercanda ? Ayolah… kamu pasti Cuma pura – pura bukan ?

Tokoh 4       : (membaca mantra seperti awalnya masuk)

Rengganis      : Ini pasti karena hasutan orang tua itu. Membunuh ular harus kepalanya dulu yang dipenggal. Brangus dia mam !

KEMUKUS MENCOBA MERANGSAK IBUNYA NAMUN DIHALANGI OLEH PARA
TOKOH.

Kemukus       : Ayolaah… hentikan segala lelucon kalian. Hentikan ! Hentikan ! (semakin bingung) Ayolaah… hentikan ! Ooh… kiamaatt… kiaamaaattt ! (jatuh)

KEMUKUS TERJATUH, RENGGANIS MENGHAMPIRINYA DAN IKUT TERJATUH.
LAMPU PADAM DAN SELESAI.


UCAPAN TERIMA KASIH, UNTUK :

MAS  PRIE GS

MAS  TON

KELUARGA BESAR TEATER LINGKAR
KELUARGA BESAR TEATER SUKMA
PECINTA, PEMERHATI SENI PERAN DI SEMARANG
REKAN PEKERJA SENI PERAN DI SEMARANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar